Cabai Bisa Jadi Terobosan Baru Pengobatan Kanker

SUDUTNEWS.ID | Kanker masih menjadi ancaman menakutkan bagi penduduk dunia. Tidak sedikit yang menganggap kanker sebagai vonis kematian. Namun sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Journal of Physical Chemistry B, menyebut cabai bisa jadi solusi pengobatan kanker.

Senyawa alkaloid dalam cabai, capcaisin, yang juga bertanggung jawab atas rasa pedas, ternyata punya manfaat dalam mengatasi kanker.

Studi yang dilakukan American Chemical Society terhadap kanker prostat itu menemukan bahwa capcaisin dalam jumlah besar, bisa membunuh sel kanker.

Cabai Bisa Jadi Terobosan Baru Pengobatan Kanker


Sebelumnya, sepuluh tahun lalu, periset telah melaporkan bahwa capcaisin bisa membunuh sel kanker pada tikus yang mengidap kanker prostat, tanpa mematikan sel sehat yang ada di sekitarnya. Namun, hasil studi tersebut belum diujicobakan pada manusia.

Pasalnya, dosis yang dibutuhkan untuk menguji pengaruh capcaisin terhadap sel kanker, membutuhkan manusia mengonsumsi sejumlah besar cabai per hari. Para peneliti pun akhirnya mencari cara untuk menggunakan ekstrak capcaisin dan mengubahnya menjadi bentuk yang mudah dikonsumsi manusia, seperti pil atau dengan cara disuntikkan langsung ke tubuh.

Mengutip Science Alert, pada 2015, dalam sebuah studi lanjutan, peneliti menemukan bahwa capcaisin memengaruhi membran, yang melindungi sel kanker. Penemuan itu menjadi inspirasi bagi dua periset asal India, Ashok Kumar Mishra dan Jitendriya Swain, untuk lebih dalam mengeksplorasi pengaruh capcaisin terhadap sel kanker.

Bukan hanya Mishra dan Swain yang tertarik, Dr Lea Weber dari Universitas Ruhr di Bochum, Jerman, menyatakan hal serupa. Namun, kali ini, dia melakukan penelitian terhadap berbagai jenis sel kanker.

"Capsaicin mampu menyebabkan kematian sel dan menghambat pertumbuhan sel kanker di banyak jenis kanker contohnya, kanker tulang osteosarcoma, kanker usus, dan kanker pankreas sementara sel normal tak akan tersakiti," katanya.

Weber menambahkan, capsaicin secara spesifik memicu sel reseptor yang disebut TRPV 1, yang mengontrol zat pertumbuhan kanker yang memperoleh makanan.

Sementara capsaicin bertarung melawan sel kanker, sel tersebut akhirnya akan tumbuh dengan merusak dirinya sendiri. Seiring dengan semakin banyaknya sel kanker yang mati, tumor akan berhenti membesar.

Namun, bahan kunci itu tak akan efektif jika capcaisin dikonsumsi dengan cara dimakan. “Capcaisin harus diformulasikan dalam tablet dan dikombinasikan dengan obat-obatan lain yang menyasar sel kanker,” sebut Weber kepada Daily Mail. (les)